Institut Humor Indonesia Kini (IHIK)

Kajian Humor Indonesia dan Mancanegara

Karyawan ke Kantor dan Bercanda di Sana

jitet kerja

Karyawan ke Kantor dan Bercanda di Sana

“I don’t want any yes-men around me. I want everybody to tell me the truth even if it costs them their job.” – Samuel Goldwyn

Anda mungkin sudah tahu bahwa humor punya potensi yang tak terbatas di kehidupan sehari-hari, termasuk di tempat bekerja. Namun sejatinya, kebebasan humor juga terbatas. Keterbatasan itu sendiri termasuk yang diakibatkan oleh ketidaktahuan dan/atau ketidaketisan.

Seringkali, keterbatasan implementasi humor di tempat kerja diakibatkan oleh ketidaktahuan. Memasuki periode revolusi industri 4.0 ini, nyatanya tak sedikit manajer, atasan, atau pengelola perusahaan yang masih menilai bekerja dan keriaan tidak bisa disatukan. Banyak yang terjebak paradigma kalau pekerjaan adalah hal yang serius, tidak membutuhkan aktivitas memproduksi dan menerima humor, apalagi menertawakannya.

Padahal, Sathyanarayana (2007) menuliskan kalau humor di lingkungan kerja punya banyak potensi. “Humor, ketika digunakan dengan tepat, adalah alat yang efektif untuk mendapatkan perhatian, menciptakan hubungan yang harmonis, dan pesan yang disampaikan lebih mudah diingat” (Sathyanarayana , 2007, h.13). Ia lantas mengelaborasi manfaat humor lainnya di tempat kerja, antara lain: untuk mengurangi ketegangan dan stres, membangun toleransi, mengkritik, memotivasi orang lain, membuat lingkungan kerja jadi lebih nyaman, sampai jadi alat penyelesaian konflik.

Ketika manajemen ingin karyawannya bekerja secara produktif, baik yang tolok ukurnya berbasis kualitas maupun kuantitas, hal itu sejatinya bisa ditunjang oleh humor. Karena humor membuat manusia bahagia, maka ketika seseorang melakukan pekerjaan dalam keadaan bahagia, ia cenderung mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan hasil di atas rata-rata.

Di sisi lain, pengaplikasian humor juga dikekang oleh ketidaketisan menurut nilai atau budaya yang dianut baik secara individu maupun komunal. Hal ini wajar saja, mengingat humor juga rawan melukai perasaan orang lain dan disalahgunakan. Tak ketinggalan, Sathyanarayana (2007) turut menyortir beberapa tipikal humor ofensif atau yang kurang layak dibawakan oleh para profesional di tempat kerjanya. Mereka adalah stupid humor (yang mengajak audience tertawa dengan gimmick lahiriah atau slapstick di momen-momen krusial); wanton humor (tipikal lelucon yang merendahkan individu atau kelompok tertentu); pompous humor (yang cenderung meninggikan diri sendiri dan merendahkan audience); ironical humor (karena ironi rawan untuk disalahartikan), serta vulgar humor (guyonan berbau seksual sebaiknya hindari karena hal ini dapat berdampak sampai mencoreng nama baik perusahaan).

Sedikit banyak, hal ini mengingatkan penulis ke sitcom The Office. Serial televisi bergenre mockumentary yang aslinya dari Inggris tetapi sudah dibuat ulang di tujuh negara lain itu berpusat pada tokoh seorang manager bernama David Brent (atau Michael Scott di versi Amerika Serikatnya) yang acapkali bercanda kelewat batas kepada rekan kerjanya; bahkan hampir semua jenis-jenis humor terlarang versi Sathyanarayana pernah dibawakannya. Karakternya adalah bos yang lebih ingin dianggap teman, tetapi dalam interaksi sosialnya, ia justru menjadi paradoks dari persona yang coba ia ciptakan di hadapan anak buahnya. Seperti yang mungkin sudah bisa Anda tebak, seringkali muncul konflik-konflik yang diakibatkan dari kegagalan si manager bersosialisasi dan menerapkan humor yang patut di tempat kerja.

Buku yang ditulis oleh Sathyanarayana tersebut memang berfokus pada penggunaan humor sebagai alat mengelola manusia dengan cukup komprehensif. Pendekatannya memang disengaja bersifat top-down, agar pemangku kebijakan paham dan tersadar akan potensi ini lalu coba mengaplikasikannya. Anjuran dan arahan di dalamnya juga dibumbui dengan contoh kejadian dan ungkapan komedik dari tokoh-tokoh ternama dan cuplikan humor yang relevan. Kendati demikian, buku ini tak hanya cocok dibaca oleh eksekutif, tetapi juga “kaum jelata perusahaan”. Soalnya, terdapat pula trik untuk mulai menjadi orang humoris di lingkungan kerja sampai contoh implementasi humor sehari-hari di kantor, misalnya ketika bernegosiasi sampai bercanda dengan bos.

Mungkin, presiden republik ini perlu mencantumkan keharusan bercanda yang pantas di saat bekerja dalam panduan menapaki revolusi industri 4.0-nya. Siapa tahu, hal tersebut justru mujarab sebagai motivasi terhindar dari ancaman industrialisasi berbasis digital ini hingga menjadi “obat penenang” di kala revolusi industri 4.0 gagal dimanfaatkan dengan baik sebagai peluang. (Ulwan Fakhri)

 

Referensi:

Sathyanarayana, K. (2007). The Power of Humor at the Workplace. New Delhi: Response.

Cartoon by Jitet Koestana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 April 2018 by in Home and tagged .
%d blogger menyukai ini: